Laporan
Search for an article
Draft Naskah Akademis Pengelolaan Perkebunan Sawit Berkelanjutan di Kalteng Tahun 2008
Naskah Akademis yang disusun oleh Pokja Sawit Multipihak Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah ini berisikan dasar untuk mengantar Raperda Pengelolaan Perkebunan Sawit Berkelanjutan di Kalimantan Tengah.Naskah Akademik Perkebunan Sawit Berkelanjutan ini diharapkan dapat memberikan keserasian dan kesamaan pandangan serta langkah-langkah seluruh pihak baik Pemerintah Pusat,Pemerintah Daerah, Swasta, Masyarakat dan Pemangku Kepentingan lainnya dalam mengatasi permasalahan perkebunan pada umumnya dan perkebunan sawit pada khususnya.
WWF Palm Oil Buyers' Scorecard 2009
Scorecard ini merupakan penilaian praktik pembelian minyak sawit oleh perusahaan-perusahaan besar di Eropa yang memproduksi atau menjual produk sehari-hari konsumen. Praktik yang dilakukan oleh tiap-tiap perusahaan di Scorecard ini dinilai berdasarkan seperangkat kriteria obyektif yang terkait dengan komitmen, langkah dan upaya mereka dalam memperoleh minyak sawit.
Forest and Land Forest
Dampak Perubahan Iklim terhadap Pengelolaan DAS Citarum
Revolusi industri yang dimulai di Eropa sejak tahun 1840 ditandai oleh pemakaian bahan bakar fosil, terutama konsumsi bahan bakar batubara yang telah meningkatkan secara drastis gas rumah kaca di atmosfer. Gas rumah kaca yang utama yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil tersebut adalah karbondioksida (CO2). Akibat adanya efek gas rumah kaca tersebut telah memicu peningkatan temperatur udara bumi secara global dari tahun ke tahun secara signifikan. Fenomena ini dikenal sebagai pemanasan global.
Dampak Perubahan Iklim Terhadap Habitat Orangutan
Orangutan merupakan satu-satunya dari empat taksa kera besar yang hidup di Asia, sementara tiga kerabatnya yang lain, yaitu; gorila, chimpanzee dan bonobo hidup di benua Afrika. Terdapat dua jenis orangutan, yaitu orangutan Sumatra (Pongo abelii) yang penyebarannya terbatas pada bagian utara Sumatera dan orangutan Borneo (Pongo pygmaeus), yang masih terdapat di beberapa tempat yang merupakan kantong-kantong habitat di Sabah dan Sarawak terutama di daerah rawa gambut serta hutan dipterokarp dataran rendah di bagian barat daya Kalimantan antara Sungai Kapuas dan Sungai Barito (propinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah), serta sebelah timur Sungai Mahakam ke arah utara (provinsi Kalimantan Timur dan Sabah).
Laporan Field Trip Energi Terbarukan 27-29 Juli 2009
Selama ini energi terbarukan lebih banyak dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik
mengingat listrik merupakan kebutuhan yang sangat penting baik sebagai penerangan
dirumah-rumah maupun untuk menggerakkan industri. Namun demikian, ada juga
beberapa jenis energi terbarukan yang dikonsumsi secara langsung walaupun jumlahnya
masih sangat sedikit. Padahal pengembangan energi terbarukan merupakan salah satu
solusi penting bagi keberlanjutan pembangunan khususnya sektor energi.
Analisis HCVF di Lansekap Giam Siak Kecil– Riau, Sumatra
High Conservation Value Forest (HCVF) is a concept defined in 1999 by the Forest Stewardship Council (FSC) for use in forest certification. It has been adopted for conservation and natural resource planning, policy, advocacy and improving purchasing policies for wood-based materials by private sector companies and NGOs. HCVF is a forest that contains one or more High Conservation Values (HCVs). An HCVF analysis is a framework that both captures standard conservation and spatial planning information and presents in a format consistent with FSC certification requirements.